GR (NAGEKEO) – Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Peternakan terus berupaya mengantisipasi sekaligus mencegah penyebaran virus ASF (African Swine Fever) yang saat ini berpotensi menyerang ternak babi yang ada di Kabupaten Nagekeo.
Plt. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, Polikarpus Meo Una melalui Pelaksana Puskeswan Kecamatan Wolowae, drh. Maria Yasinta Manuama memberikan keterangan bahwa pada Sabtu (18/7/2020) telah ditemukan bangkai babi dalam sebuah karung plastik yang diduga dibuang ke sungai dari jembatan Raterunu, Kaburea, Kecamatan Wolowae oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Kami tidak dapat melakukan Nekropsi atau bedah bangkai untuk mengetahui penyebab kematian karena bangkainya sudah membusuk sehingga sulit diidentifikasi dan harus segera dimusnahkan,” ungkap drh. Maria Yasinta Manuama, pelaksana pada Puskeswan Kecamatan Wolowae kepada Humas Pemda Nagekeo, Silvester Teda Sada, S.Fil.
Kepala Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Wolowae, Yosef Theofilus Kusnandi langsung mengambil langkah antisipatif selanjutnya yakni melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Tendakinde guna melakukan sosialisasi tentang penertiban ternak babi yang dilaksanakan pada Minggu (19/7/2020).
Koordinasi juga dilakukan bersama Camat Wolowae, Kabupaten Nagekeo dan Camat Maukaro, Kabupaten Ende dalam hal perketat pengawasan lalu lintas ternak dan penanganan bangkai ternak babi di wilayah perbatasan Nagekeo tersebut.
Pada Selasa (21/7/2020) Camat Wolowae, Gerardus M. Koro dan tim Puskeswan Wolowae juga bertemu Camat Maukaro, Ignasius Kapo untuk koordinasi lanjutan dan kerja sama berkaitan dengan tindakan serta upaya pencegahan penyebaran virus ASF dengan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan Nagekeo dan Ende dari kemungkinan pergerakan orang maupun kendaraan transportasi barang khususnya ternak babi di antara kedua wilayah tersebut.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo telah merilis sejumlah kasus kematian babi di Nagekeo sejak Januari hingga Juli 2020 ini. Diagnosa sementara yang dilakukan Pihak Dinas Peternakan Nagekeo, kasus kematian babi tersebut lebih menjurus terkena penyakit hog cholera dan keracunan termasuk di wilayah Kelurahan Danga. Pihaknya telah mengambil sampel pada beberapa kasus kematian ternak babi di Nagekeo tersebut untuk dilakukan uji klinis di laboratorium.
Hingga kini hasil uji klinis belum diketahui karena sampel ternak babi yang mati tersebut harus dikirim ke laboratorium yang ada di pulau Jawa. Oleh karena itu, diharapkan agar masyarakat juga proaktif menginformasikan kepada petugas jika terdapat ternak babi yang mati dengan gejala tertentu. Selain itu, penanganan terhadap bangkai ternak babi yang mati juga harus dilakukan pemusnahan dengan cara dibakar kemudian dikuburkan.
Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo telah berupaya maksimal dengan menerapkan tindakan pencegahan di wilayah perbatasan. Namun beberapa pihak juga menyarankan agar segera dilakukan evaluasi, baik internal maupun lintas sektor sehingga dapat menentukan upaya strategis lainnya dalam rangka mencegah penyebaran virus ASF di Kabupaten Nagekeo.(Jhonatan Raga)










Komentar