Ketua DPC PKB Lembata soroti Proyek Mangkrak Weilain

GR (LEMBATA) – Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Lembata, Simeon Lake, S.Pd, menyoroti mangkraknya proyek air bersih Weilain yang menelan pagu 25 miliar rupiah. Proyek air bersih tersebut diambil dari mata air Weilain yang berada di Desa Leubatang, Kecamatan Omesuri dan dibangun sejak 2012, masa pemerintahan periode pertama Bupati Eliaser Yantji Sunur tetapi tidak beroperasi hingga Sabtu  (13/06/2020).

Adanya proyek Weilain merupakan inisatif Fraksi PKB karena melihat orang Kedang yang terdiri dari Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri sangat sulit mengakses air bersih. Inisiatif tersebut disambut oleh pemerintah dengan menganggarkan pagu 20 miliar.

“kita dari PKB waktu itu diketuai Pak Servas Ladoangin, melihat bahwa Orang Kedang sangat susah mendapatkan air bersih. Lalu, Pak Servas dan mitranya Mr. Ben bersama beberapa tokoh masyarakat setempat melakukan survey dan hasilnya menurut Mr. Ben sangat mungkin untuk memenuhi kebutuhan Orang Kedang. Difasilitasi Pak Servas saat itu sebagai anggota DPRD Lembata, Mr. Ben melakukan perencanaan kemudian kami meminta DPRD membuka ruang agar Mr. Ben mempresentasikan hasil survey dan perencanaan tersebut”, kenang Mon Odel sapaan akrab Simeon Lake.
Ketua DPC PKB Lembata itu menambahkan “DPRD proaktif dan mengajukan kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti. Mr. Ben bersedia menjadi kontraktor atau ahli teknik pekerjaan ini yang menurutnya menelan biaya 15 miliar menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Sayangnya, kondisi berubah di mana pemerintah melakukan survey dan perencanaan ulang dengan pagu 20 miliar. Anggaran dan program pun dialokasikan tahun 2012”.

Berdasarkan survey dan perencaaan ulang pemerintah menggunakan daya listrik sehingga melibatkan pihak PLN Lembata. Namun pada awal uji coba, pihak PLN Lembata sempat memutuskan daya listrik dengan alasan pemerintah tidak membayar beban listrik. Namun, waktu penganggaran disiapkan 600.000.000 untuk 3 bulan bayar daya listrik dari PLN Lembata sambil membentuk badan pengelolah yang sampai saat ini pun tidak pernah ada.

Pemerintah terus menganggarkan perluasan jaringan termasuk sumber dari PAMSIMAS dan Dana Desa setelah segala upaya dilakukan tetapi masih saja nihil, hingga diperkirakan proyek air bersih Weilain sudah menelan anggaran 25 miliar.

Nasib air bersih Weilain yang belum memberi harapan orang Kedang hingga detik ini, oleh Yantji Sunur, disebabkan karena daya listrik dari PLN Lembata.
“ini kan sudah berjalan, air sudah keluar, cuma kita bergantung pada energy listrik PLN tetapi daya PLN tidak mampu mengangkat air” tutur Bupati Lembata dua periode ini sebagaimana yang dilansir dari Vivatimur.com (Senin, 8/6/2020).
Menanggapi pernyataan Bupati Lembata yang terkesan mengkambinghitamkan pihak lain, Mon Odel menyayangkan hal tersebut.
“bagi saya tidak masuk akal karena proyek yang manggkrak sudah sejak 2014 tapi baru disampaikan tahun ini. Bupati karena jabatan mesti mencari solusi bukan mengkambinghitamkan pihak lain. Jika memang tidak sanggup mengurai soal ini sebaiknya minta maaf dan jujur katakan bahwa memang tidak bisa dan tidak sanggup urus”, ucap pria asal Kedang ini.

Lebih lanjut, ia mengharapkan air bersih Weilain diproses sampai selesai agar tidak menjadi komoditas politik.
“sebagai Orang Kedang, saya berharap air Weilain jangan terus digantung dan kemudian menjadi komoditi politik yang seksi. Orang Kedang itu butuh air bukan main-main, maka jangan permainkan Orang Kedang. Sebagai Ketua DPC PKB Lembata saya berharap peran legislatif dan eksekutif untuk duduk bersama mengurai soal Weilain ini. Cari solusi untuk penuhi kebutuhan air untuk masyarakat secara benar. Bukan asal ada proyek tetapi tidak dapat dimanfaatkan”, pungkas Mon Odel. (Netal K)

Komentar