GR (MANGGARAI TIMUR) – Jumlah kasus kematian Ternak Babi di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, per hari terus meningkat. Kondisi pada 26 Agustus 2020 kematian babi di kabupaten itu berjumlah 254 ekor.
Tercatat di Kecamatan Borong (92 ekor), Kecamatan Kota Komba (71 ekor), Kecamatan Ranamese (60 ekor), Kecamatan Pocoranaka (5 ekor), Kecamatan Pocoranaka Timur (3 ekor), Kecamatan Lamba Leda (6 ekor), Kecamatan Sambi Rampas (4 ekor), Kecamatan Elar (6 ekor) dan Kecamatan Elar Selatan (7 ekor).
Maximus J. Nohos, SP Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur kepada gerbangrepublik.com mengatakan bahwa Kecamatan Borong, Rana Mese dan Kota Komba merupakan wilayah dengan tingkat kematian babi tertinggi. Oleh karena itu, beberapa hari belakangan ini petugas fokus melakukan penyemprotan disinfektan pada kandang babi milik warga masyarakat di tiga wilayah kecamatan itu sebagai langkah antisipatif untuk mencegah bertambahnya kasus kematian babi.
“Total populasi ternak babi di Kabupaten Manggarai Timur saat ini sebanyak 62.116 ekor. Terdiri dari jantan 24.051 ekor dan betina 38.065. Dari populasi tersebut, yang terserang wabah bakteri streptococcus sebanyak 254 ekor”, ujar Kadis Peternakan Manggarai Timur, Maximus J. Nohos, SP pada Kamis (27/8/2020) di ruang kerjanya.
Dengan jumlah populasi ternak babi ini, wilayah Manggarai Timur belum tergolong wilayah dengan angka kematian babi tertinggi. Sebagai langkah antisipatif, para peternak babi di Kabupaten Manggarai Timur diharapkan tidak lagi membeli daging babi ‘liar’ dalam artian daging yang tidak dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Matim.
“Tidak hanya itu, kita juga harus bisa hilangkan budaya ‘JULU’ (bagi bagian daging babi secara berkelompok). Jika ternak babi anda mau selamat, patuhi solusi yang kita tawarkan ini karena untuk sementara langkah ini sudah berhasil”, tegas Maximus.
Sementara itu, Rofinus Gurundu, Kabid Kesehatan Hewan menjelaskan bahwa kasus kematian babi di Kabupaten Manggarai Timur bukan karena African Swine Fever (ASF) tetapi disebabkan oleh bakteri streptococcus.
“Memang dugaan kami sebelumnya ASF, ternyata setelah kami kirimkan serum untuk diteliti Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, hasilnya Negatif ASF dan hasil yang terkonfirmasi yakni akibat bakteri streptococcus”, ungkap Rofinus.
Bakteri streptococcus ini belum ada vaksinnya. Demi memutuskan mata rantai penularan bisa dilakukan dengan langkah sederhana seperti biosecurity kandang (menjaga kebersihan kandang).
“Kami terus berupaya berikan edukasi terkait hal ini kepada masyarakat di beberapa titik wilayah yang sudah terdampak bakteri streptococcus, serta melakukan tindakan pencegahan penularannya dengan penyemprotan disinfektan pada kandang”, ujar Rofinus. (Iren Antus)
Editor : Jhonatan Raga









Komentar