Kampung Pajoreja Jadi Tempat Pelatihan Tata Kelola Destinasi Pariwisata Nagekeo

GR (NAGEKEO) – Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, M.Kes yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Setda Nagekeo, Drs. Imanuel Ndun.M.Si membuka kegiatan Pelatihan Tata Kelola Destinasi Pariwisata dan Pelatihan Mengelola Homestay Tingkat Kabupaten Nagekeo bertempat di Kampung Wisata Pajoreja, Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo pada Kamis (10/9/2020).
Pelatihan dengan tema : SUMBER DAYA MANUSIA PARIWISATA BERKUALITAS MENUJU TATANAN KEBIASAAN BARU (New Normal) YANG AMAN DAN PRODUKTIF tersebut dilaksanakan selama 4 hari sejak tanggal 9-12 September 2020 melibatkan peserta sebanyak 40 orang yang terdiri dari utusan Desa/Kelurahan/Kecamatan se-Kabupaten Nagekeo dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Kegiatan diawali dengan laporan panitia yang dibacakan oleh Kepala Bidang Kelembagaan SDM Pariwisata pada Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo, Blasius M. Ajo Bupu, ST. Dalam laporannya disebutkan bahwa Kabupaten Nagekeo termasuk dalam Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional Labuan Bajo.
Untuk itu, peningkatan citra dan mutu produk serta kualitas layanan wisata membutuhkan Sumber Daya Manusia yang cakap, terampil, memiliki skill yang tinggi, mampu menangkap peluang pasar serta profesional dibidangnya sangat mutlak diperlukan dan menjadi kebutuhan di tengah persaingan global.
Guna menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo berupaya menyelenggarakan dua jenis pelatihan yakni tata kelola destinasti dan pengelola homestay dengan biaya bersumber dari Dana Alokasi Khusus Non-Fisik Bidang Pariwisata Tahun 2020 dari sedianya yang harus dilaksanakan sebanyak 7 kegiatan pelatihan wajib, namun karena pandemi covid-19 ini, dana yang dikucurkan hanya untuk membiayai dua kegiatan pelatihan dimaksud.
Maksud dan tujuan pelatihan tersebut yakni memberi bekal pengetahuan dasar kepariwisataan, keterampilan teknis dalam hal tata kelola destinasti Pariwisata, menjadi pemandu wisata, baik wisata alam dan atau wisata buatan maupun wisata budaya serta dapat menjadi pioner pariwisata di tempat wisata masing-masing.
Marselinus Siku, Anggota DPRD mewakili Pimpinan DPRD Kabupaten Nagekeo dalam sambutannya mengatakan bahwa berbicara Pariwisata sebenarnya pekerjaan paling ringan yang dapat menghasilkan uang banyak. Kita harus merubah mindset.
“Dulu nenek moyang kita bercocok tanam dan hasilnya tidak sepadan sekarang kita harus berubah, bekerja dengan sederhana, bersih, sehat tetapi mendatangkan banyak uang”, ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Lembaga DPRD sangat mendukung kegiatan ini. Nagekeo harus mendapat kecipratan rezeki dari geliat pariwisata internasional Labuan Bajo. Untuk itu, Marselinus berharap pelatihan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. APBD yang digelontorkan di Dinas Pariwisata harus betul bermanfaat.
“Saya minta agar 7 Kecamatan saling mendukung dan bekerja sama. DAK untuk kegiatan pariwisata dianggarkan setiap tahun. Upayakan agar dalam prosesnya tidak ada masalah. Apabila telah dianggarkan tapi dalam perjalanan mau dikerjakan ada masalah tanah misalnya, maka tidak bisa dikerjakan”, ulas Marselinus.
Menutup sambutan singkatnya, ia pun berharap Pariwisata di Nagekeo harus bisa menyaingi Kabupaten Ende. “Usahakan kita harus lebih lambung dibanding Ende karena kita lebih dekat dengan Labuan Bajo”, pungkasnya.
Bupati Nagekeo dalam hal ini yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan dalam sambutannya mengatakan bahwa sektor pariwisata terus bergerak maju dan menjadi sektor andalan yang mampu menggerakan perekonomian daerah dan masyarakat.
Bicara pariwisata, kita memiliki banyak aneka ragam potensi pariwisata baik potensi wisata alam, wisata religi, wisata bahari, wisata budaya yang tersebar hampir di tujuh kecamatan, meski potensi yang kita miliki belum dikemas secara baik. Keberadaan sarana dan prasarana masih terbatas.   Dalam keterbatasan itu kita tetap berupaya agar pariwisata Nagekeo bisa menjadi sektor unggulan sepanjang kita memiliki niat, kemauan dan kerja keras kita. Hal ini sejalan dengan visi-misi Pemerintah Kabupaten Nagekeo yakni Mewujudkan Nagekeo yang Sejahtera, Nyaman dan Bermartabat melalui Pembangunan Sektor Pertanian dan Pariwisata.
Demi meningkatkan kualitas kepariwisataan di daerah ini, diharapkan agar semua potensi wisata yang ada perlu ditata dan dikelola secara baik dan penuh tanggungjawab sehingga akan bernilai lebih dan berdaya guna bagi masyarakat. Yang perlu diperhatikan pula sebagai salah satu usaha yang menjual jasa, maka kualitas layanan dalam bidang pariwisata haruslah yang diutamakan dengan tetap sesuai standart yang berlaku baik secara nasional maupun internasional.
Wisatawan yang ada di negara maju, sudah bosan dengan yang namanya modernitas mereka ingin kembali menikmati hal yang sifatnya alamiah, tradisional tetapi sudah tidak tersedia ditempat asal mereka. Kesederhanaan, keramahtamahan kita, rumah kolong, pesona alam, gunung, hutan, makanan khas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Karena itu mereka mau datang ke Indonesia sampai ke desa-desa, Back To Nature.
Di sini terjadi benturan nilai. Wisatawan menginginkan yang tradisionalitas tetapi kita sedang mengejar modernitas. Hal ini menjadi tantangan bagi kita adalah bagaimana kita memodifikasi, bagaimana kekuatan moril kita, mengembalikan masa lalu, keaslian kita kendati kita berada di tengah modernitas. Jiwa untuk mempertontonkan sesuatu yang kita miliki di masa lalu yang menjadi keindahan dan kekayaan leluhur kita tidak boleh dihilangkan karena itu menjadi kekuatan pariwisata kita.
Kementerian Desa sekarang sedang menggelontorkan dana yang cukup besar untuk program revitalisasi budaya yang artinya budaya masyarakat yang asli yang sudah hampir punah harus digali dan ditemukan kembali. Terkait hal tersebut, diingatkan kembali bahwa Lembaga Pemangku Adat (LPA) bukanlah kepala suku tetapi Kepala suku itu dilahirkan dari kesepakatan masyarakat.
LPA itu diangkat dan merupakan tokoh yang menjembatani aspek kultural yang ada di suku dan aspek formalitas yang ada di pemerintah untuk membawa kekuatan pemerintah ini menjadi energi baru untuk merevitalisasi budaya sehingga budaya lama tidak hilang. Hal seperti inilah yang menjadi kekuatan penggerak yang membangkitkan kembali masa lalu kita yang ada di masa depan yang sedang dicari. Berbicara tentang pariwisata kita jangan berpikir tentang hal yang luar biasa yang harus kita cari ke mana-mana, sementara yang ada di sekitar kita, kita hilangkan.
Ketika sarana yang kita miliki masih terbatas dan konsumen akan tetap menggunakan jasa kita tergantung mutu layanan kita. Ketika muncul persaingan baru, kualitas layanan akan menjadi indikator utama bagi konsumen. Pada titik ini kualitas layanan menjadi faktor kunci meningkatnya arus kunjungan dan rata-rata tinggal arus wisatawan.
Pariwisata melekat dengan bisnis kepariwisataan. Karena itu, pola pola mencari kiat dan strategi untuk menarik minat, mempertontonkan layanan kita yang profesional, panorama alam maupun aspek budaya yang baik tentunya dituntut agar mempunyai naluri bisnis, bagaimana ketika orang pulang dari kampung Pajoreja dan harus kembali lagi karena merasa ada keistimewaan yang tidak didapatkan ditempat lain kecuali di Pajoreja ini.
Di akhir sambutannya, Bupati Nagekeo juga berharap agar ke depan kampung wisata Pajoreja dengan sejuta pesona yang dimiliki, bukan saja menjadi tempat persinggahan wisata semata akan tetapi menjadi tujuan utama wisatawan.
Turut hadir pada kegiatan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Marselinus Siku (Anggota DPRD), Nara sumber dari DMO Flores, Ibu Sefnita dan Ferdin Radawara, Ndona Andreas Corsini (Kadis Pariwisata), dr.Dewi (Kadis Kesehatan), Gunter Meo (Kapolsek Mauponggo), Marselina Mabha (Sekcam Mauponggo), Petrus Leko (Kades Ululoga), Johanes Niku (Ketua HPI Nagekeo), Bruno Sanda (Pendamping Lokal), Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat Desa Ululoga dan undangan lainnya. (Jhonatan Raga)

Komentar