GR ( NAGEKEO) – Bupati Nagekeo, Johanes Donbosco Do, M.Kes menutup kegiatan Pelatihan Anyaman Bambu di Desa Totomala, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo pada Jumat (10/7/2020)
Rita Astuti, Kepala Bidang Industri pada Dinas Koperindag Kabupaten Nagekeo melaporkan bahwa kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh Diskoperindag bekerja sama dengan Dekranasda Kabupaten Nagekeo pada tanggal 7 – 10 Juli 2020.
Jumlah peserta yang dilatih sebanyak 20 orang dan telah mengikuti pelatihan sejak awal hingga selesai. Para peserta dibekali ilmu dasar tentang prosesnya, dimulai sejak penyediaan bahan baku, bahan setengah jadi hingga finishing menjadi produk jadi, seperti kotak tisu, tempat bunga, kipas, dll.
Sementara itu, Maria Adriana No’o, Ketua Kelompok Dasawisma Sumber Baru, mewakili peserta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Negekeo yang telah memberikan perhatian kepada kelompok anyaman untuk berkreasi menggunakan bambu sebagai bahan dasar.
“Kami dilatih memilih bambu. Bambu tidak boleh terlalu muda dan tidak boleh terlalu tua. Waktu kegiatan yang kami harapkan bisa lebih, tetapi hanya 4 hari. Terima kasih Bapak Bupati yang telah memberi perhatian kepada kami untuk ikut pelatihan anyaman ini menggunakan bahan bambu. Selama ini kami hanya anyam gunakan daun lontar dan gebang”, ungkapnya.
“Kendala waktu yang sangat kurang. Karena latihan rumit, dan alat pun kurang lengkap, kami sering saling tunggu. Harapan kami, ke depan perlu ada keberlanjutan. Kami mohon bantuan modal untuk kelompok kami dalam meningkatkan keterampilan menganyam bambu”, ujar Adriana.
Markus Lina, asal kampung Tololela, Desa Manubhara, Kabupaten Ngada sebagai instruktur/pelatih anyaman bambu menyampaikan bahwa secara umum, wilayah Flores jarang anyam menggunakan anyaman bambu. Kebanyakan anyam dengan bahan dasar dari daun. Masih ada kekurangan. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi semangat belajar dan ingin tahunya sangat tinggi. Itu modal yang baik”, ungkap Markus.
Bupati Don dalam sambutan penutupan kegiatan pelatihan tersebut menyampaikan bahwa sedianya kegiatan pelatihan ini bisa 7 hari. Penanggulangan Covid-19 menyebabkan anggaran kita dipotong. Ada Keputusan lain seperti APBDes, bisa menjawab kebutuhan ibu-ibu. Alat bantu, nama apa, bagusnya seperti apa, supaya bisa dibelanjakan agar kelompok bisa lanjut dan cepat bergerak.
“Kita sudah terbiasa anyam pakai daun (gebang dan lontar). Sekarang pakai bahan bambu aur, peri atau bhetung. Produk apa yg dibutuhkan pasar, kita juga harus survey sendiri di pasar. Di sana kita lihat. Orang butuh kotak sampah. Kita siapkan itu. Harus ada kemampuan menerjemahkan kebutuhan pengunjung pasar. Kita melatih jari jemari kita supaya lebih piawai lagi. Jual lombok sekaligus dengan “koko” (wadahnya)”.
“Pasar bisa kita dikte. Sama seperti pasar dikte kita untuk tinggalkan “ipe” (bere) ke tas plastik. Tee re’a (tikar daun pandan) ke tikar plastik. Sekarang kita harus bisa anyam te’e (tikar) dari “bo” (gebang). Anak sekolah harus latih jari. Bukan hanya latih jari dengan handphone tetapi dengan anyaman seperti ini”, tegas Bupati Don. (Jhonatan Raga)










Komentar