GR (Nagekeo) – Pemerintah Kabupaten Nagekeo terus berupaya lakukan pencegahan dan pengawasan di wilayah perbatasan Kabupaten Nagekeo dalam rangka mengantisipasi secara langsung potensi masuknya virus ASF (African Swine Fever). Kebijakan ini untuk memastikan bahwa tidak ada ternak babi atau olahan daging babi yang masuk ke Kabupaten Nagekeo.
Plt. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, Apolinaris Meo kepada gerbangrepublik.com melalui sambungan seluler pada Senin (20/7/2020) mengatakan bahwa belum ada kasus kematian ternak babi terkait ASF di Kabupaten Nagekeo.
“Sampai saat ini belum ada kasus kematian babi yang mengarah ke ASF di Nagekeo. Berdasarkan laporan dari petugas di lapangan, memang ada ternak babi yang mati tetapi setelah diperiksa petugas lebih menjurus terkena hog cholera dan keracunan, bukan ASF. Tetapi kami tetap upayakan untuk uji klinis terhadap kasus ternak babi yang mati tersebut,” ungkapnya.
Dikatakannya bahwa hingga saat ini Dinas Peternakan terus melakukan pemantauan serta himbauan sekaligus memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat untuk tidak mendatangkan atau menerima ternak babi dari luar Nagekeo.
Selain melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku, sehingga produk daging menjadi perhatian khusus untuk penularan lintas batas.
“Kami terus menghimbau agar tidak menerima babi maupun produk olahan dari luar kabupaten untuk urusan apapun. Kepada para peternak diharapkan perlu menjaga kebersihan serta peralatannya, meningkatkan imunitas ternak babi dengan pemberian pakan yang baik dan vitamin serta tidak memberikan makanan hasil limbah dari olahan babi. Jika ada ternak babi yang sakit atau mati harus segera melaporkannya kepada petugas,” ujar Plt. Kadis Peternakan Nagekeo ini.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada vaksinnya. Diharapkan kita perketat pengawasan serta selalu waspada dalam menjaga ternak babi yang kita pelihara, karena penularan virus ASF ini melalui perpindahan ternak babi, daging babi serta olahannya.
“Selain itu, beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh peternak babi, antara lain : Tidak memberikan makanan untuk babi dari sisa limbah dapur rumah tangga maupun rumah makan, karena sumber penularan utama saat ini dari pakan babi yg tercemar kuman ASF. Terapkan biosecurity yang baik seperti penyemprotan kandang dengan desinfektan setiap hari serta pisahkan ternak babi yang sakit dari babi sehat lainnya”, jelas Apolinaris Meo.(Jhonatan Raga)






Komentar